Kamis, 23 Juli 2015

KEDATANGAN WARGA TRANSMIGRAN



II.  KEDATANGAN WARGA TRANSMIGRASI
               
                1. Transmigran asal DKI.
                Sungai Tabuan yang sempit dan berkelok-kelok sore itu dilalui oleh iring-iringan ketek (kendaraan  air) yang membawa warga transmigran asal DKI Jakarta, tiga unit kendaraan sungai tersebut dipenuhi oleh warga yang berjumlah 25 kepala keluarga atau 104 jiwa beserta barang bawaannya, mereka dipimpin oleh Damiri sebagai kepala rombongan.
                Inilah pertama kalinya bumi Satuan Pemukiman (SP) 6 Air Tenggulang dijamah oleh penghuninya, saat itu terjadi pada tanggal 14 Agustus 2001. Walapun transmigran berasal dari Daerah Khusus Ibukota (DKI) akan tetapi pada kenyataannya mereka merupakan para pengungsi yang berasal dari daerah konflik Aceh. Apabila  diamati lebih teliti sebenanarnya warga yang baru datang ini sebagian besar berasal dari suku Jawa Tengah, Cilacap. DKI Jakarta hanya merupakan tempat penampungan saat mereka menunggu adanya program transmigrasi.
                Menurut cerita beberapa orang yang baru datang, bahwa di Aceh telah terjadi pengusiran penduduk yang berasal dari pulau Jawa secara besar-besaran.
Padahal diantara para penghungi sudah ada yang menetap lebih dari 20 tahun di Aceh, tentunya mereka telah beranak dan bercucu.
                Para pengungsi meninggalkan Aceh dalam kondisi sangat memprihatinkan, sebab rumah mereka dibakar, harta dirampas bahkan tidak sedikit sanak saudara mereka dibunuh oleh gerombolan separatis Gerakan Aceh Merdeka. Masih sangat bersyukur mereka dapat meloloskan diri  dan menyelamatkan nyawa dari kekejaman GAM. Surat-surat berharga dan harta benda banyak yang hilang atau tertinggal di daerah asal (Aceh).

Ada perasaan bersyukur kepada Tuhan Maha Pengasih ketika untuk pertama kalinya warga menjamah tanah harapan, SP 6 Air Tenggulang.  Hamparan tanah yang telah dijanjikan oleh Pemerintah telah berada di hadapan, terlihatlah wajah-wajah yang dahulu kusam dan murung berubah menjadi ceria, semangat hiduppun besemi layaknya kuntum bunga, cita-cita untuk maju berkecamuk dalam dada seakan tak sabar agar segera tersujud, padahal baru beberapa waktu lalu mereka dalam keadaan putus asa mengingat saat keluar dari Aceh dan membawa diri sendiri saja rasanya sulit.
                Kedatangan penghuni baru di lokasi SP 6 Air Tenggulang disambut oleh petugas transmigrasi,. Lukman Effendi sebagai Kepala Unit Pemukiman,. Darusman,. Sugiiyanto dan Sangap Pohan. Hari itu juga diadakan pengundian untuk mendapatkan lokasi rumah dan pekarangan. Masing-masing kepala keluarga mendapat pekarangan seluas 0,5 hektar dan diatasnya berdiri bangunan rumah terbuat dari kayu sengon berukuran 3 meter X 6 meter, beratapkan seng dan berbentuk panggung.
               Sebenarnya bangunan seluas itu sangat tidak layak dikatakan sebuah tempat tinggal terutama bagi yang jumlah anggota keluarganya lebih dari 4 jiwa, sebab pada bangunan tersebut hanya terdapat sebuah kamar dan sebuah ruang tamu, tidak ada dapur, oleh karena itu tempat memasak dan ruang tamu menjadi satu, jika malam hari tiba, bagi yang anggota keluarganya lebih dari 4 jiwa  tentunya ada sebagian  tidur diruang tamu yang berkuran 2,5 meter X 2,5 meter. Semua itu tidaklah dipersoalkan oleh penghuninya, saat itu bangunan dari kayu, berbentuk panggung dan seluas itu merupakan sebuah istana yang megah jika dibandingkan dengan tempat penampungan yang berdesak-desakan dan bising. Di hamparan pekarangan yang baru mereka terima masih merupakan hutan muda, sehingga tunggul kayu dan
semak belukar tingginya hingga jendela rumah, tanahnya masih berlubang, untuk mencapai rumah warga sering tersangkut ranting yang berserakan dan kejeblos lubang.
                Berawal dari tekad untuk meraih bahagia di tanah harapan ini maka tangan-tangan terampil mulai membersihkan semak belukar di sekitar rumah, rasanya waktu berjalan begitu singkat hingga tidak terasa sorepun menjelang, dalam perbaringannya sang ayah merasa lama sekali menunggu pagi agar dapat bekerja. Bangga dan haru bercampur baur dan melahirkan semangat tanpa lelah tergambar pada wajah mereka.
                Namun sayangnya di ujung lorong tidak terdapat jembatan, waktu itu warga meletakan kayu seadanya sehingga para ibu dan anak-anak sering kecebur parit yang lebarnya 2 meter dan dalamnya 1,5 meter.
                Selama 3 hari jatah makan yang berupa makanan masak masih ditanggung oleh pemerintah, karena peralatan masak belum diterima oleh warga, selain itu bahan-bahan yang untuk dimasak juga belum diterima warga. Namanya juga memasak borongan jadi rasa masakannyapun sekedar pantas untuk dimakan. Walapun demikian hanya sedikit orang yang mengeluh tentang rasa masakan.
                Selang tiga hari setelah tiba di lokasi, warga menerima peralatan  berupa panci, piring plastik, cankir plastik, kuali, gayung, kelambu, tikar, baju, sepatu, cangkul dll. Lengkaplah sudah apa-apa yang diterima oleh warga baru ini,  kemudian warga ditempatkan di blok “B”. 

2. Kedatangan Transmigran asal Jawa Barat   (Banten).
                Tanggal 26 September 2001, kembali sungai Tabuan yang sempit dilalui oleh kendaraan air (ketek) dan membawa para transmigran asal Jawa Barat. Rombongan dipimpin oleh
Ama sebagai ketua rombongan. Transmigran yang baru datang ini berjumlah 25 kepala keluarga atau 97 jiwa.
                Daerah asal Jawa Barat yang dimaksud adalah dari kabupaten Pandegelang, propinsi Banten. Sama halnya seperti transmigran angkatan pertama, yang baru datang kali ini juga para eksodan (pengungsi) dari daerah konflik Aceh. Sedangkang Kabupaten Pandegelang merupakan kampung halaman mereka yang sebenarnya, artinya para eksodan dahulu sebelum  berangkat trans ke Aceh, merupakan penduduk daerah ini.
                Kondisi warga baru ini tidak jauh berbeda dengan angkatan pertama, cerita tentang harta dirampas, rumah dibakar, sekolah dibakar juga terdengar dari beberapa warga, namun ada juga cerita Ibnu Sutowo bahwa keadaan di Aceh tempat tinggalnya GAM tidaklah kejam.
Apapun ragam cerita warga yang baru datang itu yang pasti mereka sekarang telah menemukan tempat yang lebih aman untuk mengayam masa depan bagi keluarganya.
Warga ditempatkan di blok “A” dan blok “B”.

                3. Kedatangan transmigran asal DIY dan Jawa Timur.
                Dua hari setelah kedatangan transmigran asal Banten atau tepatnya tanggal 28 September 2001,  tiba pula rombongan angkatan ketiga yang berasal dari Daerah Istimewa Yogjakarta dan rombongan dari Jawa timur secara bersamaan waktunya.
                Transmigran yang berasal dari Yogjakarta dipimpin oleh Suratno dengan jumlah warga yang dibawa sebanyak 70 jiwa atau 20 kepala keluarga, sedangkan warga yang berasal dari Jawa Timur berjumlah 30 kepala keluarga atau terdiri dari 20 kepala keluarga berasal dari kabupaten Ngawi dan 10 kepala keluarga berasal dari kabupaten Trenggalek.
Rombongan dari Ngawi dipimpin oleh Sumardi dan rombongan dari Trenggalek dipimpin oleh Sutaji.

Pada angkatan pertama dan kedua para transmigran khusus eksodan dari daerah konflik Aceh, pada angkatan ketiga ini juga merupakan para eksodan akan tetapi bukan khusus dari daerah konflik Aceh saja bahkan adapula para eksodan dari daerah Poso (Sulawesi) dan dari daerah Sambas (Kalimantan), angkatan ke tiga ini ditempatkan di blok “A”, blok “B” dan blok “C”.

              4. Kedatangan Transmigran asal Jawa Tengah.
                Sore itu cuaca mendung dan disertai hujan rintik-rintik, sungai Tabuan yang sempit dan berliku-liku diramaikan lagi oleh 3 buah ketek yang terseok-seok. Saat itu air sungai mulai akan pasang, sedangkan sungai dalam keadaan dangkal jadi mesin ketek tidak dapat dihidupkan. Ketek dapat berjalan menggunakan satang (kayu pendorong) karena dangkalnya sungai akan merusak baling-baling ketek, ditambah lagi saat itu sungai Tabuan banyak terdapat tunggul pohon yang telah tumbang. Pada situasi seperti itu maka untuk mencapai desa yang jaraknya sekitar 2 kilo meter memakan waktu sampai 3 jam.
Transmigran yang datang kali ini berasal dari Profinsi Jawa Tengah, yaitu dari Kabupaten Pekalongan sebanyak 15 kepala keluarga, dari Kabupaten Pemalang 5 kepala keluarga dan dari Kabupaten Magelang sebanyak 10 kepala keluarga atau seluruhnya berjumlah 110 jiwa, angkatan keempat ini dipimpim oleh Untung Irianto.
Dari atas ketek terlihat lambaian tangan para warga yang terlebih dahulu tiba di SP 6 Air Tenggulang. Mereka menyambut kami seperti sedang menanti kedatangan saudara kandung yang telah lama berpisah. Suasana menjadi haru namun bahagia yang kami rasakan saat itu.
                Setibanya di dermaga, tepat di depan balai pertemuan ketekpun berhenti dan menurunkan penumpangnya, saat itu
azan maghrib berkumandang dari mesjid yang terletak tidak jauh dari balai pertemuan. Para wanita dan anak-anak dikumpulkan dibalai pertemuan sedangkan para bapak menurunkan barang-barang. Hujan turun semakin lebat tidak menyurutkan semangat kami para bapak dalam bekerja, tidak ada rasa lelah apalagi malas yang ada hanya rasa bahagia karena warga telah tiba ditujuan dengan selamat.
                Kedatangan warga disambut oleh petugas transmigrasi, Lukman sebagai Kepala Satuan Unit Pemukiman Transmigrasi 6 Air Tenggulang,  Darusman,  Sangap Pohan dan Sugiyanto.  Sekitar pukul 20.00 WIB, diadakan pengundian nomor rumah oleh petugas, wargapun satu-persatu mengambil nomor rumah.
                Hari itu tanggal 1 Oktober 2001, kedatangan transmigran kali ini juga sama latar belakangnya dengan warga yang terdahulu yaitu para eksodan dari daerah konflik Aceh, Maluku, Sambas, dan Irian Jaya (Papua), mereka ditempatkan di blok “C”.

5. Kedatangan Trasmiran asal Sekayu
    (lokal eks Aceh)
                Tanggal 12 Oktober 2001, sekitar pukul 18.00 WIB. datang lagi rombongan warga baru yang akan menghuni SP 6 Air Tenggulang. Kedatangan warga baru ini kiriman dari Kabupaten Musi Banyuasin (Sekayu). Mereka digolongkan sebagai transmigran lokal, akan tetapi pada dasarnya warga merupakan para pengungsi dari Aceh yang sementara ditampung oleh sebuah Prusahaan Perkebunan PT. PINAGO UTAMA. Sambil menunggu program Transmigrasi   para pengungsi tadi ikut bekerja di perusahaan tersebut.
                Kedatangan warga kali ini agak aneh sebab mereka datang dengan membawa barang-barang  banyak sekali berupa peti kayu besar-besar yang isinya peralatan rumah tangga.

Transmigran yang terdahulu datang dengan apa adanya, karena harta benda mereka dirampas dan dibakar oleh GAM, namun untuk transmigran asal Sekayu tidaklah demikian, meskipun warga asal Sekayu ini juga merupakan eksodan dari daerah konflik Aceh tetapi kalau dilihat sepintas dari jumlah barang bawaannya  seperti transmigran “Bedol Desa”.
Karena penasaran, penulis menyelusuri kejadian janggal bagi para pengungsi ini, ternyata menurut cerita warga yang baru datang bahwa mereka berada di Sekayu sudah
1 tahun lebih dan selama disana para pengungsi bekerja dan mendapat gaji, dari hasil kerja inilah para eksodan membeli peralatan rumah tangga, berupa sepeda, angkong, kasur, lemari, televisi dan lain-lain bahkan ada yang membawa sepeda motor (Salim).
                Rombongan dari Sekayu dipimpin oleh Kuromsi sebagai kepala rombongan, mereka berjumlah 35 kepala keluarga atau 147 jiwa dan ditempakan di blok “A” dan blok “D”.

6. Kedatangan Transmigran asal Medan.  
                Kesibukan Sungai Tabuan terlihat lagi ketika iring-iringan ketek datang dan sandar di depan balai pertemuan SP 6 Air Tenggulang. Kendaraan sungai tersebut membawa para
transmigran asal Medan, Sumatra Utara yang berjumlah 20 kepala keluarga atau 68 jiwa. Rombongan dipinpin oleh Jumingan.
                Keanehan terlihat lagi pada kedatangan rombongan asal Medan ini, karena apabila pada kedatangan warga dari Sekayu mereka membawa barang-barang banyak namun untuk rombongan yang datang kali ini nyaris hanya membawa barang-barang seadanya bahkan ada pula yang tidak membawa apa-apa atau hanya baju yang melekat di badan. Sehingga untuk salin mejadi kesulitan dan harus meminjam dari temannya atau dari warga yang datang terdahulu.
                Rupanya barang-barang mereka tersesat sampai ke Profinsi Lampung, demikian cerita warga yang baru datang, setelah 3 hari baru barang bawaan mereka sampai di lokasi SP 6 Air Tenggulang. Warga di tempatkan di blok “C” dan blok “D”.
mejadi kesulitan dan harus meminjam dari temannya atau dari warga yang datang terdahulu.
              
7. Kedatangan Transmigran Lokal asal Teluk Betung
                Desa Teluk Betung merupakan desa induk, karena wilayah SP 6 Air Tenggulang merupakan bagian dari wilayah Desa Teluk Betung. Warga yang berasal dari Desa Teluk Betung berjumlah 55 kepala keluarga atau 282 jiwa dan dipimpin oleh Jakso sebagai kepala rombongan. Jumlah warga yang datang paling banyak dari sebelumnya, sebab seperti telah disebutkan di atas bahwa SP 6 merupakan pecahan dari Desa Teluk Betung tentunya desa induk mendapat kuota jatah lebih banyak dari daerah lain, mereka tiba di SP 6 Air Tenggulang pada tanggal 12 Nopember 2001.
                Sebelum transmigran asal Desa Teluk Betung datang, rumah-rumah yang letaknya strategis telah diberi nama-nama oleh calon pemiliknya, padahal belum ada undian untuk mendapatkan rumah. Dampak yang terjadi setelah beberapa tahun terlihat jelas bahwa rumah-rumah yang dimiliki oleh warga asal Desa Teluk Betung jarang yang ditempati (ditunggu), sehingga pandangan pertama sewaktu masuk SP 6 Air Tenggulang yaitu pekarangan yang semak belukar milik warga Teluk Betung, sampai buku ini di tulis hanya beberapa orang saja yang masih bertahan menempati lokasinya, yaitu Jakso, Bastiar, Mat Rayo, Rusli dan Baidawi.
                Setelah diselidiki maka penulis mendapat jawaban, bahwa warga yang berasal dari  Desa Teluk Betung ternyata telah memiliki tanah dan tempat tinggal di desa asalnya sehingga jatah
lokasi yang diberikan oleh Pemerintah tidak terawat. Seiring perjalanan waktu lokasi milik warga lokal Teluk Betung banyak yang ditumpang sari atau dirawat oleh warga trans lainnya sehingga akhir-akhir ini kelihatan lumayan bersih, ditambah lagi telah banyak yang telah diganti rugikan hak kepemilikannya dan oleh pemilik barunya lokasi tersebut ditempati dan dirawat. Warga yang berasal dari Desa teluk Betung ditempatkan di blok “B”, “C”, “D” dan “E”. 

8. Keadatangan Transmigran Lokal asal  Desa Langkap dan Desa Gajah   Mati.
Tanggal 13 Nopember 2001, transmigran lokal asal Desa Langkap dan Desa Gajah Mati tiba di SP 6 Air Tenggulang. Warga yang baru datang ini berjumlah 25 kepala keluarga atau 100 jiwa yang berasal dari Desa Langkap dan 35 kepala keluarga yang berasal dari Desa Gajah Mati atau 150 jiwa. Desa Langkap dan Desa Gajah Mati adalah tetangga Desa Teluk
Betung.                                                             
Jumlah jiwa yang tercantum diatas jika diamati sewaktu kedatangnnya sangat tidak sesuai dengan kenyataan, sebab dari catatan yang ada tentunya sangat ramai warga yang datang, namun pada  kedatangan dengan catatan jumlah tersebut telihat  sepi-sepi saja, bahkan dari Desa Gajah Mati waga yang datang hampir seluruhnya adalah para lelaki dewasa sedangkan wanita dan anak-anak hanya terlihat beberapa orang saja. Mereka ditempatkan di blok “D” dan blok “E”.
 Dengan kedatangan transmigran lokal asal Desa Langkap dan Desa Gajah Mati maka lengkaplah sudah kuota untuk Satuan  Pemukiman 6 Air Tenggulang yaitu 300 kepala keluarga atau 1228 jiwa.