II. KEDATANGAN WARGA TRANSMIGRASI
1. Transmigran asal DKI.
Sungai
Tabuan yang sempit dan berkelok-kelok sore itu dilalui oleh iring-iringan ketek
(kendaraan air) yang membawa warga
transmigran asal DKI Jakarta, tiga unit kendaraan sungai tersebut dipenuhi oleh
warga yang berjumlah 25 kepala keluarga atau 104 jiwa beserta barang bawaannya,
mereka dipimpin oleh Damiri sebagai kepala rombongan.
Inilah
pertama kalinya bumi Satuan Pemukiman (SP) 6 Air Tenggulang dijamah oleh
penghuninya, saat itu terjadi pada tanggal 14 Agustus 2001. Walapun transmigran
berasal dari Daerah Khusus Ibukota (DKI) akan tetapi pada kenyataannya mereka
merupakan para pengungsi yang berasal dari daerah konflik Aceh. Apabila diamati lebih teliti sebenanarnya warga yang
baru datang ini sebagian besar berasal dari suku Jawa Tengah, Cilacap. DKI
Jakarta hanya merupakan tempat penampungan saat mereka menunggu adanya program
transmigrasi.
Menurut
cerita beberapa orang yang baru datang, bahwa di Aceh telah terjadi pengusiran
penduduk yang berasal dari pulau Jawa secara besar-besaran.
Padahal diantara para penghungi sudah
ada yang menetap lebih dari 20 tahun di Aceh, tentunya mereka telah beranak dan
bercucu.
Para
pengungsi meninggalkan Aceh dalam kondisi sangat memprihatinkan, sebab rumah
mereka dibakar, harta dirampas bahkan tidak sedikit sanak saudara mereka dibunuh
oleh gerombolan separatis Gerakan Aceh Merdeka. Masih sangat bersyukur mereka
dapat meloloskan diri dan menyelamatkan
nyawa dari kekejaman GAM. Surat-surat berharga dan harta benda banyak yang
hilang atau tertinggal di daerah asal (Aceh).
Ada perasaan bersyukur kepada Tuhan
Maha Pengasih ketika untuk pertama kalinya warga menjamah tanah harapan, SP 6
Air Tenggulang. Hamparan tanah yang
telah dijanjikan oleh Pemerintah telah berada di hadapan, terlihatlah
wajah-wajah yang dahulu kusam dan murung berubah menjadi ceria, semangat
hiduppun besemi layaknya kuntum bunga, cita-cita untuk maju berkecamuk dalam
dada seakan tak sabar agar segera tersujud, padahal baru beberapa waktu lalu
mereka dalam keadaan putus asa mengingat saat keluar dari Aceh dan membawa diri
sendiri saja rasanya sulit.
Kedatangan
penghuni baru di lokasi SP 6 Air Tenggulang disambut oleh petugas transmigrasi,.
Lukman Effendi sebagai Kepala Unit
Pemukiman,. Darusman,. Sugiiyanto dan Sangap Pohan. Hari itu juga diadakan pengundian untuk mendapatkan
lokasi rumah dan pekarangan. Masing-masing kepala keluarga mendapat pekarangan
seluas 0,5 hektar dan diatasnya berdiri bangunan rumah terbuat dari kayu sengon
berukuran 3 meter X 6 meter, beratapkan seng dan berbentuk panggung.
|
|
semak belukar tingginya hingga jendela
rumah, tanahnya masih berlubang, untuk mencapai rumah warga sering tersangkut
ranting yang berserakan dan kejeblos lubang.
Berawal
dari tekad untuk meraih bahagia di tanah harapan ini maka tangan-tangan
terampil mulai membersihkan semak belukar di sekitar rumah, rasanya waktu
berjalan begitu singkat hingga tidak terasa sorepun menjelang, dalam
perbaringannya sang ayah merasa lama sekali menunggu pagi agar dapat bekerja.
Bangga dan haru bercampur baur dan melahirkan semangat tanpa lelah tergambar
pada wajah mereka.
Namun
sayangnya di ujung lorong tidak terdapat jembatan, waktu itu warga meletakan
kayu seadanya sehingga para ibu dan anak-anak sering kecebur parit yang
lebarnya 2 meter dan dalamnya 1,5 meter.
Selama
3 hari jatah makan yang berupa makanan masak masih ditanggung oleh pemerintah,
karena peralatan masak belum diterima oleh warga, selain itu bahan-bahan yang
untuk dimasak juga belum diterima warga. Namanya juga memasak borongan jadi
rasa masakannyapun sekedar pantas untuk dimakan. Walapun demikian hanya sedikit
orang yang mengeluh tentang rasa masakan.
Selang
tiga hari setelah tiba di lokasi, warga menerima peralatan berupa panci, piring plastik, cankir plastik,
kuali, gayung, kelambu, tikar, baju, sepatu, cangkul dll. Lengkaplah sudah
apa-apa yang diterima oleh warga baru ini,
kemudian warga ditempatkan di blok “B”.
2. Kedatangan Transmigran asal Jawa
Barat (Banten).
Tanggal 26 September 2001,
kembali sungai Tabuan yang sempit dilalui oleh kendaraan air (ketek) dan
membawa para transmigran asal Jawa Barat. Rombongan dipimpin oleh
Ama sebagai ketua rombongan. Transmigran
yang baru datang ini berjumlah 25 kepala keluarga atau 97 jiwa.
Daerah
asal Jawa Barat yang dimaksud adalah dari kabupaten Pandegelang, propinsi
Banten. Sama halnya seperti transmigran angkatan pertama, yang baru datang kali
ini juga para eksodan (pengungsi) dari daerah konflik Aceh. Sedangkang
Kabupaten Pandegelang merupakan kampung halaman mereka yang sebenarnya, artinya
para eksodan dahulu sebelum berangkat
trans ke Aceh, merupakan penduduk daerah ini.
Kondisi
warga baru ini tidak jauh berbeda dengan angkatan pertama, cerita tentang harta
dirampas, rumah dibakar, sekolah dibakar juga terdengar dari beberapa warga,
namun ada juga cerita Ibnu Sutowo
bahwa keadaan di Aceh tempat tinggalnya GAM tidaklah kejam.
Apapun ragam cerita warga yang baru
datang itu yang pasti mereka sekarang telah menemukan tempat yang lebih aman
untuk mengayam masa depan bagi keluarganya.
Warga ditempatkan di blok “A” dan blok
“B”.
3. Kedatangan transmigran asal DIY dan Jawa
Timur.
Dua hari setelah kedatangan transmigran
asal Banten atau tepatnya tanggal 28 September 2001, tiba pula rombongan angkatan ketiga yang
berasal dari Daerah Istimewa Yogjakarta dan rombongan dari Jawa timur secara
bersamaan waktunya.
Transmigran
yang berasal dari Yogjakarta dipimpin oleh Suratno
dengan jumlah warga yang dibawa sebanyak 70 jiwa atau 20 kepala keluarga,
sedangkan warga yang berasal dari Jawa Timur berjumlah 30 kepala keluarga atau
terdiri dari 20 kepala keluarga berasal dari kabupaten Ngawi dan 10 kepala
keluarga berasal dari kabupaten Trenggalek.
Rombongan dari Ngawi dipimpin oleh Sumardi dan rombongan dari Trenggalek
dipimpin oleh Sutaji.
Pada angkatan pertama dan kedua para
transmigran khusus eksodan dari daerah konflik Aceh, pada angkatan ketiga ini
juga merupakan para eksodan akan tetapi bukan khusus dari daerah konflik Aceh
saja bahkan adapula para eksodan dari daerah Poso (Sulawesi) dan dari daerah
Sambas (Kalimantan), angkatan ke tiga ini ditempatkan di blok “A”, blok “B” dan
blok “C”.
Sore itu cuaca mendung dan disertai
hujan rintik-rintik, sungai Tabuan yang sempit dan berliku-liku diramaikan lagi
oleh 3 buah ketek yang terseok-seok. Saat itu air sungai mulai akan pasang,
sedangkan sungai dalam keadaan dangkal jadi mesin ketek tidak dapat dihidupkan.
Ketek dapat berjalan menggunakan satang (kayu pendorong) karena dangkalnya
sungai akan merusak baling-baling ketek, ditambah lagi saat itu sungai Tabuan
banyak terdapat tunggul pohon yang telah tumbang. Pada situasi seperti itu maka
untuk mencapai desa yang jaraknya sekitar 2 kilo meter memakan waktu sampai 3
jam.
Transmigran yang
datang kali ini berasal dari Profinsi Jawa Tengah, yaitu dari Kabupaten
Pekalongan sebanyak 15 kepala keluarga, dari Kabupaten Pemalang 5 kepala
keluarga dan dari Kabupaten Magelang sebanyak 10 kepala keluarga atau seluruhnya
berjumlah 110 jiwa, angkatan keempat ini dipimpim oleh Untung Irianto.
Dari atas ketek
terlihat lambaian tangan para warga yang terlebih dahulu tiba di SP 6 Air
Tenggulang. Mereka menyambut kami seperti sedang menanti kedatangan saudara
kandung yang telah lama berpisah. Suasana menjadi haru namun bahagia yang kami
rasakan saat itu.
Setibanya di dermaga, tepat di
depan balai pertemuan ketekpun berhenti dan menurunkan penumpangnya, saat itu
azan maghrib berkumandang dari mesjid
yang terletak tidak jauh dari balai pertemuan. Para wanita dan anak-anak
dikumpulkan dibalai pertemuan sedangkan para bapak menurunkan barang-barang.
Hujan turun semakin lebat tidak menyurutkan semangat kami para bapak dalam
bekerja, tidak ada rasa lelah apalagi malas yang ada hanya rasa bahagia karena
warga telah tiba ditujuan dengan selamat.
Kedatangan
warga disambut oleh petugas transmigrasi, Lukman
sebagai Kepala Satuan Unit Pemukiman Transmigrasi 6 Air Tenggulang, Darusman, Sangap
Pohan dan Sugiyanto. Sekitar pukul 20.00 WIB, diadakan pengundian
nomor rumah oleh petugas, wargapun satu-persatu mengambil nomor rumah.
Hari
itu tanggal 1 Oktober 2001, kedatangan transmigran kali ini juga sama latar
belakangnya dengan warga yang terdahulu yaitu para eksodan dari daerah konflik
Aceh, Maluku, Sambas, dan Irian Jaya (Papua), mereka ditempatkan di blok “C”.
5. Kedatangan Trasmiran asal Sekayu
(lokal eks Aceh)
Tanggal
12 Oktober 2001, sekitar pukul 18.00 WIB. datang lagi rombongan warga baru yang
akan menghuni SP 6 Air Tenggulang. Kedatangan warga baru ini kiriman dari
Kabupaten Musi Banyuasin (Sekayu). Mereka digolongkan sebagai transmigran
lokal, akan tetapi pada dasarnya warga merupakan para pengungsi dari Aceh yang
sementara ditampung oleh sebuah Prusahaan Perkebunan PT. PINAGO UTAMA. Sambil
menunggu program Transmigrasi para
pengungsi tadi ikut bekerja di perusahaan tersebut.
Kedatangan
warga kali ini agak aneh sebab mereka datang dengan membawa barang-barang banyak sekali berupa peti kayu besar-besar
yang isinya peralatan rumah tangga.
Transmigran yang terdahulu datang
dengan apa adanya, karena harta benda mereka dirampas dan dibakar oleh GAM,
namun untuk transmigran asal Sekayu tidaklah demikian, meskipun warga asal
Sekayu ini juga merupakan eksodan dari daerah konflik Aceh tetapi kalau dilihat
sepintas dari jumlah barang bawaannya
seperti transmigran “Bedol Desa”.
Karena
penasaran, penulis menyelusuri kejadian janggal bagi para pengungsi ini,
ternyata menurut cerita warga yang baru datang bahwa mereka berada di Sekayu
sudah
1 tahun lebih dan selama disana para
pengungsi bekerja dan mendapat gaji, dari hasil kerja inilah para eksodan
membeli peralatan rumah tangga, berupa sepeda, angkong, kasur, lemari, televisi
dan lain-lain bahkan ada yang membawa sepeda motor (Salim).
Rombongan
dari Sekayu dipimpin oleh Kuromsi
sebagai kepala rombongan, mereka berjumlah 35 kepala keluarga atau 147 jiwa dan
ditempakan di blok “A” dan blok “D”.
6. Kedatangan Transmigran asal Medan.
Kesibukan
Sungai Tabuan terlihat lagi ketika iring-iringan ketek datang dan sandar di
depan balai pertemuan SP 6 Air Tenggulang. Kendaraan sungai tersebut membawa
para
transmigran asal Medan, Sumatra Utara
yang berjumlah 20 kepala keluarga atau 68 jiwa. Rombongan dipinpin oleh Jumingan.
Keanehan terlihat lagi pada
kedatangan rombongan asal Medan ini, karena apabila pada kedatangan warga dari
Sekayu mereka membawa barang-barang banyak namun untuk rombongan yang datang
kali ini nyaris hanya membawa barang-barang seadanya bahkan ada pula yang tidak
membawa apa-apa atau hanya baju yang melekat di badan. Sehingga untuk salin mejadi kesulitan dan harus meminjam
dari temannya atau dari warga yang datang terdahulu.
Rupanya
barang-barang mereka tersesat sampai ke Profinsi Lampung, demikian cerita warga
yang baru datang, setelah 3 hari baru barang bawaan mereka sampai di lokasi SP
6 Air Tenggulang. Warga di tempatkan di blok “C” dan blok “D”.
mejadi kesulitan dan harus meminjam
dari temannya atau dari warga yang datang terdahulu.
7. Kedatangan Transmigran Lokal asal
Teluk Betung
Desa
Teluk Betung merupakan desa induk, karena wilayah SP 6 Air Tenggulang merupakan
bagian dari wilayah Desa Teluk Betung. Warga yang berasal dari Desa Teluk
Betung berjumlah 55 kepala keluarga atau 282 jiwa dan dipimpin oleh Jakso
sebagai kepala rombongan. Jumlah warga yang datang paling banyak dari
sebelumnya, sebab seperti telah disebutkan di atas bahwa SP 6 merupakan pecahan
dari Desa Teluk Betung tentunya desa induk mendapat kuota jatah lebih banyak
dari daerah lain, mereka tiba di SP 6 Air Tenggulang pada tanggal 12 Nopember
2001.
Sebelum
transmigran asal Desa Teluk Betung datang, rumah-rumah yang letaknya strategis
telah diberi nama-nama oleh calon pemiliknya, padahal belum ada undian untuk
mendapatkan rumah. Dampak yang terjadi setelah beberapa tahun terlihat jelas bahwa
rumah-rumah yang dimiliki oleh warga asal Desa Teluk Betung jarang yang
ditempati (ditunggu), sehingga pandangan pertama sewaktu masuk SP 6 Air
Tenggulang yaitu pekarangan yang semak belukar milik warga Teluk Betung, sampai
buku ini di tulis hanya beberapa orang saja yang masih bertahan menempati
lokasinya, yaitu Jakso, Bastiar, Mat Rayo, Rusli dan Baidawi.
Setelah diselidiki maka penulis
mendapat jawaban, bahwa warga yang berasal dari
Desa Teluk Betung ternyata telah memiliki tanah dan tempat tinggal di
desa asalnya sehingga jatah
lokasi yang diberikan oleh Pemerintah
tidak terawat. Seiring perjalanan waktu lokasi milik warga lokal Teluk Betung
banyak yang ditumpang sari atau dirawat oleh warga trans lainnya sehingga
akhir-akhir ini kelihatan lumayan bersih, ditambah lagi telah banyak yang telah
diganti rugikan hak kepemilikannya dan oleh pemilik barunya lokasi tersebut
ditempati dan dirawat. Warga yang berasal dari Desa teluk Betung ditempatkan di
blok “B”, “C”, “D” dan “E”.
8. Keadatangan Transmigran Lokal
asal Desa Langkap dan Desa Gajah Mati.
Tanggal 13
Nopember 2001, transmigran lokal asal Desa Langkap dan Desa Gajah Mati tiba di
SP 6 Air Tenggulang. Warga yang baru datang ini berjumlah 25 kepala keluarga
atau 100 jiwa yang berasal dari Desa Langkap dan 35 kepala keluarga yang
berasal dari Desa Gajah Mati atau 150 jiwa. Desa Langkap dan Desa Gajah Mati
adalah tetangga Desa Teluk
Betung.
Jumlah jiwa yang
tercantum diatas jika diamati sewaktu kedatangnnya sangat tidak sesuai dengan
kenyataan, sebab dari catatan yang ada tentunya sangat ramai warga yang datang,
namun pada kedatangan dengan catatan jumlah
tersebut telihat sepi-sepi saja, bahkan
dari Desa Gajah Mati waga yang datang hampir seluruhnya adalah para lelaki
dewasa sedangkan wanita dan anak-anak hanya terlihat beberapa orang saja.
Mereka ditempatkan di blok “D” dan blok “E”.
Dengan kedatangan transmigran lokal asal Desa
Langkap dan Desa Gajah Mati maka lengkaplah sudah kuota untuk Satuan Pemukiman 6 Air Tenggulang yaitu 300 kepala
keluarga atau 1228 jiwa.